Sunday, January 10, 2010

Jika suatu hari berjumpa, masa kecilku

Sejenak tadi telah aku mengatakan "Assalamualaikum" kepada Bude dan Pakde-ku, yaitu Nenek dan Kakekku yang tercinta, dan kendalanya adalah fakta bahwa dalam waktu nanti rumah keluarga, yaitu rumah Bude dan Pakde-ku yang sangat kucintai akan ditinggalkan, dijual. Bukannya saya ingin mereka tidak melakukan itu, tpai saya ingin. Karena usia yang telah memberatkan hidup mereka menyusahkan hidup dalam rumah yang besar seperti itu. Namun kembali keucapan "Assalamualaikum" itu. Setiap kuucapkan Assalamualaikum berarti aku akan pergi, entah melakukan apa, pergi sekolah atau apapun, dna saat kuucapkan itu kepada mereka, Bude-ku yang sedang bermain dengan kucingnya yang imut sambil menyisir rambutnya dikit demi sedikit, kuambil tangannya dan kukecupkan ke keningku, lalu Pakde-ku yang sedang menggosok giginya dengan lugunya dengan giginya yang bolong-bolong tersenyum bahagia dengan gosok gigi di tangan kanan dan tangan kirinya di keningku, hal-hal tersebut membuatku merasa betapa tuanya mereka dan.. tak perlu ku-ucapkan lanjutnya.


Selesai mengecupkan keningku ke tangan mereka ku berjalan keluar kamar dan mengucapkan Assalamualaikum dalam hati, mencuri pandang ke seluruh bagian rumah yang dapat kulihat, karena kutahu tempat yang mengisi awal hidupku akan sebentar lagi hilang, tempat terciptanya kenangan-kenangan campur-aduk rasa akan hilang, disitulah dalam kepalaku mulai ku bernafas berat, hidung terasa sesak dan mata buram. Hening bersedih didalam kegelapan menghadapi fakta, fakta yaitu mungkin inilah kenangan terakhir yang terbuat di tempat ini, canda-tawa terakhir yang kudengar di meja makan, terakhir kali melihat kamar buyutku, terakhir kali berkumpul bersama saudara-saudara disitu. Beratnya masa-masa hidupku sekarang ini, banyak pilar yang runtuh belakangan ini dan yang berdiri tidak cukup untuk menggantikan yang runtuh.

Tapi seperti biasanya aku tidak akan kalah, aku akan menopang semuanya sendiri, menjaga diriku agar tidak terlalu lama berlutut didepan kenestapaan dan dengan gesit aku berdiri tegak dan tinggi lagi. Karena ada alasan untuk selalu berdiri kembali.
Masih banyak yang ingin kutumpahkan di kertas dunia maya ini. Namun waktu tidak berpihak, dan perutku juga.

Lalu, itu baru saja jatuh keluar (jelek banget ya di indonesia-in)

Ardi,